Allure Of The Seas : Dry Dock di Cadis, Kejutan Tak Terduga di Pantainya Orang Spanish

By

Segede-gedenya atau secanggih-canggihnya kapal, tetap harus dimaintenence demi keselamatan para penumpang dan crew. Apalagi jika terjadi masalah pada bagian penting kapal. Ketika terjadi masalah dengan mesin atau sparepart yang vital pada kapal, dia harus segera di perbaiki biar pelayaran jadi aman tentram. Allure of The Seas yang merupakan kapal pesiar terbesar di dunia juga pernah mengalami beberapa masalah, seperti bearing yang retak, perbaikan azipod dan interior kapal.


Jika perbaikannya ringan, kapal cukup melakukan wet dock, artinya perbaikan bisa dilakukan di fasilitas shipyard / galangan dengan kapal masih berada di dalam air. Untuk perbaikan pada bagian Azipod (daerah baling-baling) kadang disebut juga azidock. Ketika kapal memerlukan perbaikan yang major, seprti pada mesin, merombak interior, kapal harus masuk ke dalam shipyard kemudian diangkat dari permukaan laut sehingga kapal tidak menyentuh air sedikitpun, disebut juga dengan drydock. Biasanya kapal pesiar akan mengalami drydock setiap lima tahun sekali. Pada waktu join di Allure of The Seas kebetulan dapat kebagian mengikuti drydock di Cadis Spain. Sebelumnya sudah pernah pengalaman kapal drydock, tapi di Nassau Bahamas yang terpencil seperti pulau hantu. Kali ini di Cadis kayaknya seru, karena letaknya dekat perkotaan.


Asiknya drydock adalah kapal tidk berisi penumpang (tamu) hanya crew dan kontraktor, jadi kerjaan anak-anak Laundry sangat ringan, kerja cuma 6-8 jam sehari dan ada banyak party di dalam kapal. Si bos Laundry Master, paling suka jalan-jalan dan shopping, jadi anak-anak dipush supaya cepat kelar kerjaan, siangnya cukup istirahat bentar biar sorenya bisa cepat keluar jalan-jalan. Cadiz adalah salah satu kota tertua di Eropa Barat, jadi desain bangunan kotanya vintage dan klasik gitu deh. Tempat nongkrong, jalan-jalan apalagi shopping pokoknya cakep deh. Banyak barang yang menarik untuk dibeli kalau bawa duit banyak, tapi harganya ya mehong gitu, secara mata uangnya pakai Euro. Satu Euro waktu itu sekitar Rp 16.000, kalau beli sepatu harnya 100 Euro jadinya 1,6 juta, bisa tepok jidat. Apalagi drydock nya memakan waktu dua minggu, kalau tidak pandai-pandai tahan godaan, kartu atm bisa jebol. Mendingan beli kopi atau beer yang ada free wifinya supaya bisa hilangin kangen dengan keluarga, soalnya wifi di kapal masih harus beli.

Di salah satu warkop.


Ada satu tempat tongkrongan vaforit saya, sebuah bar yang menyajikan berbagai minuman (lupa namanya). Bar ini mungkin dikunjungi oleh orang dari berbagai negara, buktinya di rak botol minuman ada koleksi uang berbagai negara yang tertempel disana. Kalau di Indonesia bar mungkin kesannya tempat maksiat atau cari cewek, tapi di sini budayanya bar dipakai tempat kumpul sambil minum wine, minuman beralkohol atau beer sambil cerita dengan sahabat, pacar, atau keluarga.

Koleksi uang berbagai negara yang tertempel di rak minuman.

Saya kesini bukan untuk cari minuman yang keras-keras, tapi saya tertarik dengan draft beernya yang konon enak. Draft beer adalah beer yang disajikan langsung dari wadahnya berupa gentong yang terbuat dari kayu, biasanya kayu oak. Rasanya tidak seperti beer kaleng atau botol, lebih memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Dengan 2 Euro sudah dapat satu gelas sedang draft beer plus free wifi. Beli bir segelas, nongkrong disana bisa berjam-jam wkwkw, maklum anak +62. Untuk menuju kota Cadiz, harus jalan cukup jauh, anehnya waktu itu jam 9 malam disana mataharinya belum tenggelam, masih bersinar terang, masih panas.

Suasana di bar


Tiap hari lihat-lihat toko dan nongkrong di bar lama-lama bosen juga. Suatu ketika kita diberi day off oleh si bos, saya dan satu orang teman punya rencana cari pantai, menurut google map, ada pantai yang dekat dengan kota jadi cucok lah buat jalan kaki kesana. Menurut mitos di Cadis juga ada nudist beach, kali aja beneran. Cuaca cukup panas, tapi tidak menyurutkan niat kami cari pantai. Dalam perjalanan kita menemukan street market. Ada seorang penjual mendekati kami, dia terlihat cukup tua, menanyakan darimana kita berasal. Mungkin karena kita dilihat muka-muka asia. Ketika kita bilang dari Indonesia dia terkejut, langsung ngomong pakai bahasa Indonesia dikit-dikit. Katanya dia dulu sering liburan ke Indonesia, tempatnya bagus-bagus, orangnya baik, suka senyum (dalam hati : untuk gak disebutin yang suka demo). Setelah cuap-cuap dan foto-foto bentar, kita lanjut cari pantai.

Salah satu orang lokal yang kami ajak foto


Ini pantai gak tau namanya tapi asli rame, siang hari orang-orang pada berjemur dibawah terik matahari yang menyengat. Untuk menyesuaikan dengan kondisi dan biar gak terlihat katrok, kita memutuskan jalan tanpa baju, celana doang biar terlihat lebih ke bule-bule an. Karena sangat terik, sunglass mesti terus nempel biar gak silau (biar gak silau apa biar bisa liat orang Spanish berjemur??? hehe).

Suasana di pantai yang sangat cerah.

Sampai di pantai kita bingung mau ngapain, mau nyemplung asli panas banget takut gosong. Kita putuskan untuk gelar pool towel di tempat yang agak teduh sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Kita sudah siapkan minuman dingin biar gak dehidrasi. Dari anak-anak, emak-emak, kakek-kakek dan teenager ramai bermain dan berjemur di bibir pantai, ada juga yang berenang. Setelah diperhatikan lagi, ada beberapa pengunjung pantai terutama yang wanita berjemur tanpa pakai atasan alias topless, dan dengan pede menjemur diri di bawah terik mentari. Pikiran saya mungkin karena emak-emak kali.


Selang beberapa saat ada sekumpulan remaja wanita yang kata orang seperti gitar spanyol datang dan duduk di sebelah kami (agak jauh). Dalam hati, gak mungkin lah abg-abg kaya gini berjemur juga lepas kutang. Mereka terlihat asik berjemur sambil bercerita. Kami juga dalam pose berjemur meskipun sebenarnya gak tahan. Asik meneguk soda sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi, saya dikejutkan teman. “Cuy cuy noh lihat abg sini juga lepas kutang kalau berjemur!”. Sayapun sampai keselek coca-cola. Ternyata mereka dengan santainya menjemur badan topless sambil oles-oles sunscream dan rokokan. Takut dosa, sayapun cuma lihat bentar. Mungkin hal seperti itu sudah dianggap biasa disana. Kamipun sok cool, tidak jelalatan, mencoba seperti bule-bule yang lain.

Di depan pantai, sangat bersih.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kamipun segera balik menuju kapal dengan terlebih dahulu mengabadikan momen-momen di pantai. Sampai kapal kami cerita pada teman-teman, merekapun pada heboh ingin kesana juga.