New York : Ditipu Penjual Kamera

By

 

Explorer of the seas pada tahun 2011 memiliki home port di Bayone, New Jersey (Cape Liberty Cruise Port). Dari port ini, Statue of Liberty yang terkenal itu bisa dilihat. Sayangnya pas di port itu merupakan boarding day, jadi semua crew yang day shift tidak bisa lama jalan-jalan keluar. Kebetulan saya masuk malam bersama 3 teman lain, jadi pas boarding day di Bayone kita bisa jalan-jalan. Pihak kapal juga menyediakan free shuttle bus jika kita ingin ke down town. Ada juga tour ke kota New York tetapi kita harus bayar, murah cuma 5 USD per orang pulang pergi. Kalau ke down town Bayone kita sudah sering jalan-jalan, mulai dari pakai bus, taxi sampai pakai kereta. Mendengar ada tour ke New York saya langsung daftar. Dulu waktu kecil cuma bisa lihat di tv, sepertinya kalau ke sana langsung akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, saya sangat bersemangat.

Shuttle bus menuju New York

Pertama kali ke New York tujuan saya cuma explorasi terlebih dahulu, jadi tidak banyak bawa uang. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih 25 menit.  Turun dari bus saya cuma bisa melongo sambil bilang wowww (maklum anak desa hehe). Memang benar Ney York adalah kota yang besar dan ramai seperti di TV. Sampai di sana saya jadi bingung mau ngapain dan mau kemana, yaudah muter-muter aja dulu.Bus menurunkan penumpang di suatu titik, saya harus benar-benar mengingatnya karena kalau tersesat atau pergi terlalu jauh dan tidak menemukan titik penurunan bus saya bisa ditinggal kapal.

Sudut Kota New York

New York adalah tempat yang bagus untuk menguras isi kantong karena terdapat berbagai outlet pakaian, sepatu, tas, jam, elektronik dengan harga diskon yang relative murah. Sampai di sana saya bingun mau beli baju, beli sepatu dll tapi bawa uang dikit.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Hard Rock Café New York. Hard Rock Cafe terkenal diantara para crew kapal dan banyak yang mengoleksi t shirt dan pernak perniknya, saya tidak tahu kenapa. Saya juga ikutan beli t shirt sebagai kenang-kenangan, harganya lumayan mahal 25 USD (sampai sekarang masih, tidak pernah dipakai karena kekecilan). Keluar dari Hard Rock ketika iseng foto sana sini tiba-tiba ada cewek cakep banget jalan sendirian trus minta difotoin, lumayan…hehe

Hard Rock Cafe New York

Tempat selanjutnya yang menarik perhatian adalah Ripley’s Believe it or Not! Time Square. Disini banyak hal yang aneh-aneh mulai dari patung dengan bentuk wajah yang aneh, replica robot bumble bee, orang dengan tato aneh di sekujur wajah dan lain-lain. Untuk masuk ke sana tidak dikenakan tiket waktu itu. Acara ini juga pernah saya lihat di TV waktu kecil, jadi ini kesempatan melihat auditoriumnya langsung dan seperti biasa saya merasa sangat senang hehehe. Waktu berlalu begitu cepat kamipun harus kembli ke kapal menghadapi realita, kembali bekerja.

Ripley’s Believe it or Not! Odditorium
Replika Bumble Bee

Minggu berikutnya saya berencana ke New York lagi membeli beberapa t shirt dan beli kamera DSLR. Untuk itu di kapal saya sudah cek terlebih dahulu harga kamera online di Amazon. Saya putuskan membeli kamera Canon (lupa serinya). Saya cari nama sellernya kemudian saya search di google map dan screen shoot lokasinya sambil mereka-reka arah jalan, takut nanti tidak ada free wifi pas di sana. Saya bersama 3 teman dan crew lainnya, tetapi mereka semua berpencar mencari tempat belanja masing-masing. Karena niat membeli kamera, saya coba mencari lokasi toko yang sudah saya screen shoot. Dalam perjalanan, saya menemukan toko kamera lain yang besar dan ramai, tetapi karena itu bukan toko yang dicari, saya lanjutkan perjalanan. Ternyata tidak segampang yang saya kira, jalan berliku-liku yang ditemukan dan tidak sesuai bayangan. Akhirnya saya menemukan sebuah toko kamera dan souvenir tetapi itu bukan di alamat yang saya cari. Disana saya lihat ada seorang crew kapal Anand namanya yang tengah berbelanja, saya putuskan untuk masuk melihat-lihat.

Pengamen di sini beda lho…

Kamera yang dicari ternyata ada di sana, saya pun ingin mencobanya. Saya bilang ke penjualnya bahwa saya telah cek harganya online dan harusnya mendapatkan bonus tas. Si penjual pun mengiyakan. Saya coba jepret sana sini bersama Anand ternyata hasilnya bagus. Saya tanya Anand, dia bilang juga bilang kameranya bagus. Beberapa saat kemudian Anand bilang ingin pergi melihat-lihat ke toko yang lain, saya pun sendirian di sana. Ketika otak atik kamera penjaga toko menghampiri, orangnya brewok dan tinggi. Dia bilang kalau saya membuat pilihan yang salah, kamera Canon yang saya pegang memerlukan banyak lensa tambahan, beda penggunaan beda lensa, harga satu lensa pun lumayan mahal. Saya pikir iya juga ya, bisa-bisa saya keranjingan beli-beli lensa nanti. Kemudaian ia pun menyodorkan sebuah kamera Sony dengan integrated lense. Dia bilang “Ini kamera terbaik untuk pemula, bisa dipakai makro, jarak dekat, jarak jauh, autofocus dan banyak fitur lain dalam satu kamera, jadi kamu bisa hemat karena tidak perlu membeli lensa tambahan”. Saya jadi bingung pilih yang mana. Kemudian saya tanya harga kameranya, ternyata lebih mahal 150 USD dari camera Canon, saya juga tidak bisa cek harga online karena tidak ada Wi-Fi. Setelah saya hitung total uang yang dibawa, saya bilang ke penjualnya uangnya tidak cukup, sambil menunjukan sejumlah uang, diapun menghitungnya. Kemudian si pemilik toko menghampiri, dari wajahnya terlihat dia bukan warga US, mendengar dari nada bicaranya dia seperti orang dari wilayah eropa.

Anak-anak laundry

Dia memperkenalkan dirinya dan mengajak saya bersalaman. Dia bertanya apakah ini pertama kali saya mengunjungi New York, saya bilang tidak. Saya jelaskan kalau saya berlibur disini mengunjungi paman (bohong dengan maksud untuk menghindari dimahal-mahalin). Ketika saya bilang dari Indonesia dia terlihat terkejut, sambil memegang tangan saya, dia bilang “Temanku senang sekali kamu mengunjungi kota New York, saya sering ke Indonesia dan punya keluarga di sana, saya sangat menyukai Indonesia, orang Indonesia sudah saya anggap seperti keluarga”. Seperti terhipnotis, entah kenapa saya merasa senang dan mempercayai begitu saja pemilik toko itu. Kemudian dia bilang “Saya akan membantu kamu, tambah lagi sedikit saja maka kamera Sony ini akan jadi milikmu, kamu punya berapa dollar lagi di kantongmu?”. Saya pun mengeluarkan isi kantong (saya tidak membawa dompet), ada sekitar 38 USD. Si pemilik toko bilang, “Karena kamu teman baik saya, maka tambah lagi 35 USD”. Setelah pikir-pikir lagi saya pun setuju kemudian si penjaga toko mempersiapkan kameranya. Sebelum pergi pemilik toko memberikan struk belanja dari mesin kasir manual.

Kelaparan karena kebanyakan shoping

Selama perjalanan saya terus kepikiran, jangan-jangan harganya lebih mahal dari harga aslinya. Sampai di kapal saya cek harganya di Amazon, ternyata lebih mahal hampir 2 kali lipat dari harga aslinya. Saya pun tepok jidat sambil gigit jari, menyesali kecerobohan saya berbelanja. Saya mencoba menghibur diri, kalau beli online mungkin harga lebih murah tapi kita tidak tahu kualitas barangnya langsung. Untuk mengobati rasa penasaran minggu berikutnya saya ke New York lagi, mencari perbandingan harga di toko yang lain. Ternyata kamera yang saya beli harganya jauh lebih mahal dari harga pasaran. Saya merasa kesal dengan si penjual kamera itu. Saya tertipu dua kali. Pertama, harga kameranya lebih mahal dari harga pasaran, kedua udah lebih mahal malah saya mau nambah uang lagi. Saya pun mengiklaskan dan semenjak itu tidak pernah lagi beli barang di toko sembarangan. Saya lebih suka belanja barang online di Amazon atau Ebay.