Saya dan Menara Pisa

By

Sebagai seorang anak yang lahir di desa pada tahun 80 an teknologi tidak lah seperti sekarang. Dengan rumah di atas bukit, pada masa prasekolah saya belum merasakan namanya listrik dan televisi karena waktu itu belum masuk ke desa, untuk kebutuhan penerangan saya menggunakan lampu minyak tanah, bangun-bangun hidung jadi hitam hihihi. Baru pada awal masuk SD listrik masuk ke rumah. Waktu SD kelas dua, saya sangat terpesona melihat selembar poster yang tertempel di dinding kelas. Itu adalah gambar sebuah menara tapi condong ke saping. Dalam hati kecil, tempat seperti itu mungkin cuma ada di dongeng. Guru saya bilang itu adalah Menara Pisa, salah satu keajaiban dunia yang terletak di Italy. Ada kata ajaibnya saya pikir itu adalah suatu tempat yang sangat istimewa, saya menjadi semakin penasaran. Waktu itu saya tidak ada pikiran ingin kesana, mustahil lah saya cuma seorang anak SD, tempatnya juga entah dimana.

Waktu SD kelas 3 saya baru mengenal namanya TV, waktu itu ada dua pilihan, bisa beli TV hitam putih atau TV berwarna yang harganya lebih mahal. Keluarga saya memutuskan untuk beli TV berwarna, waktu itu mereknya SABA. Sebelumnya saya hanya mendengar cerita dari teman-teman tentang serunya nonton Doraemon atau Saint Seiya, akhirnya saya bisa menontonnya langsung dan ikut bercerita dengan teman-teman, itu membuat saya sangat senang. Saya juga sangat terpesona menonton tempat-tempat indah di dunia yang dihadirkan dalam berita atau film. Hati kecil saya berkata “Seandainya saya bisa ke tempat-tempat itu saya pasti akan merasa sangat senang”. Waktu SMP saya punya keinginan dalam hati, dalam hidup saya harus pernah merasakan keluar pulau dan keluar Indonesia. Saya tidak pernah ceritakan kepada siapapun. Dari sekolah ke rumah kadang jalan 5 km, makanya keinginan itu saya anggap cuma mimpi. Suatu ketika salah seorang kakak kelas mendapatkan study di Jepang dan dia mengirimkan fotonya selama di Jepang ke sekolah. Saya sangat terpesona, seandainya saya diposisinya dia, pasti sangat menyenangkan bisa mengunjungi Jepang, tempat yang sering saya lihat di film-film.

Waktu cepat berlalu dan mulailah masa-masa SMA. Waktu itu cita-cita saya mulai realistis, yaitu belajar dengan tekun supaya bisa dapat perguruan tinggi yang bagus, cepat bisa bekerja dan meningkatkan taraf hidup keluarga. Tidak ada sama sekali terbayang keinginan keluar pulau apalagi ke luar negeri. Jurusan yang membutuhkan uang banyak saya hindari untuk meringankan beban orang tua. Yang paling sedikit biayanya waktu itu adalah sekolah keguruan, itu menjadi pilihan. Waktu kuliah saya sangat yakin bahwa yang menjadi tujuan hidup adalah menjadi seorang guru atau dosen. Setelah tamat kuliah ternyata persaingannya malah ketat, banyak perguruan tinggi yang menamaatkan guru. Saya coba melamar PNS 5 kali tidak lulus, jadi guru honor gaji pas-pasan. Entah kenapa keinginan masa kecil saya muncul, ingin melihat dunia di luar sana. Akhirnya saya bekerja di kapal, mengunjungi berbagai tempat di dunia diantaranya Menara Pisa di Italy, Hirosima dan Nagasaki di Jepang, Amerika, Kanada, dan masih banyak lagi. Artinya mimpi masa kecil saya terwujud. Saya merasa sangat bersyukur dan juga tidak habis pikir, dari yang saya anggap cuma mimpi malah jadi kenyataan. Cita-cita menjadi seorang guru malah kandas.

Setelah saya membaca beberapa buku saya temukan namanya subconscious mind atau pikiran bawah sadar. Saya kira itu adalah hal yang berkaitan dengan hipnotis, tapi setelah dipelajari lebih lanjut, subconscious mind memegang peranan penting terhadap result dalam hidup kita. Segala sesuatu yang nyantol di alam bawah sadar besar kemungkinan menjadi kenyataan. Seperti yang dibilang Andrew Carnegie “Any idea that is held in the mind, that is emphasized, that is either feared or revered will, begin at once to clothe itself in the most convenient and appropriate physical form available” (Sumber: You Were Born Rich, Bob Proctor). Dengan kata lain segala sesuatu yang ada di pikiran kita baik yang kita sukai atau takuti akan menjadi hal fisik yang mendekati. Besar kemungkinan gambar menara pisa dan tempat-tempat lainnya di dunia nyantol di alam bawah sadar saya, menjadi sebuah tujuan/goal yang tidak saya sadari. Sementara menjadi seorang guru merupakan keinginan alam sadar saya, sehingga bertolak belakang. Kalau alam sadar kita anggap gas maka alam bawah sadar kita angap rem. Ketika arah mobil kita rasa tidak sesuai kita akan menekan rem kemudian menuju arah yang diinginkan. Begitupun alam bawah sadar akan mengarahkan kita ke tempat, keadaan, benda atau hal-hal yang tergambar jelas di dalamnya yang mungkin tidak kita ketahui.

Benar tidaknya cerita saya yang jelas Menara Pisa itu luar biasa indah dan menakjubkan. Waktu itu saya hanya mengeluarkan uang 20 USD untuk membyar shuttle bus ke Livorno, tempat dimana Menara Pisa berada. Bus harus parkir agak jauh dari Menara Pisa, jadi saya harus jalan sedikit untuk sampai disana. Cuaca agak dingin waktu itu tetapi pemandangan di sepanjang jalan sangat indah, terdapat beberapa penjual bunga di sepanjang jalan. Hal lainnya yang menarik perhatian saya adalah di beberapa tempat wisata di Italy selalu ada orang kulit hitam (mungkin imigran) yang berjualan berbagai macam tas bermerk terkenal di jalanan. Tasnya terlihat berkualitas dan persis seperti aslinya, harganya juga lumayan murah, tetapi saya tidak pernah membelinya, mencurigakan soalnya.

Pisa Baptistery

Untuk masuk ke Menara Pisa tidak dikenakan tiket masuk, tetapi jika kita ingin naik ke atas Menara Pisa baru dikenakan biaya, waktu itu kalau tidak salah harus bayar 20 Euro. Bangunannya terdiri dari tiga bagian yaitu Menara Pisa itu sendiri, disebelahnya ada Pisa Cathedral dan Pisa Baptistery. Saya sempat masuk kedalam Pisa Cathedral dan Pisa Baptistery, interiornya luar biasa indah, sayang foto dan video yang saya simpan di hardisk hilang semua, tinggal beberapa foto yang tersisa hiksss…