Kapal Kedua Grandeur Of Seas : Kebakaran Hebat Di Tengah Laut

By

Setelah sepuluh bulan bekerja banting tulang jadi laundry attendant, tiba saatnya saya menikmati liburan selama dua bulan. Ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu bagi semua pelaut, pulang kerumah bertemu sanak keluarga, bisa tidur sampai siang, tidak ada alarm dan bisa kembali menikmati masakan rumah. Dua bulan liburan terasa begitu cepat, baru pulang dari kapal tau-tau sudah harus packing barang lagi. Kontrak kali ini saya join di kapal Grandeur of The Seas, lebih kecil dari kapal pertama Explorer of The Seas. Kapal ini memiliki bobot 74,140 gross tonnage, dengan kapasitas penumpang sampai dengan 2.440 orang dan crew sebanyak 760 orang. Waktu itu homeport nya di Venice Italy, jadi penerbangan ke sana lebih singkat daripada penerbangan ke US, cuma butuh sekali transit dari Denpasar – Doha (Qatar) – Venice. Kebetulan kapal ini overnight di Venice sehingga saya sempat jalan-jalan keliling venice (sendirian) pada malam hari, Venice sangat indah di malam hari.

Kontrak kali ini sangat menarik, karena kapal tengah berada di wilayah Eropa sehingga saya bisa jalan-jalan ke banyak tempat mengagumkan seperti Menara Pisa di Livorno, Napoly Italy, Roma, Santorini Grace, Athens, Mykonos, Kusadasi Turki, beberapa wilayah Prancis dll. Setelah beberapa bulan di Eropa Grandeur of The Seas memasuki masa repositioning (pindah itinerary) ke US yang memakan waktu perjalanan kurang lebih dua minggu. Karena harga barang-barang di wilayah Eropa relative mahal, jika sudah sampai US ini jadi kesempatan untuk hunting barang-barang murah di Walmart, Macys, Jc Penny dll hehehe shopping mode on.

Pada tanggal 27 Mei 2013 Grandeur of The Seas tengah dalam perjalanan dari Port Canaveral, Florida menuju Coco Cay Bahamas, pulau pribadinya Royal Caribbean Cruise Ltd (mereka punya pulau pribadi lagi satu namanya Labadie yang berlokasi di Haiti). Seperti biasa, selesai bekerja anak-anak laundry beristirahat di cabin masing-masing, saya pun tertidur pulas begitupun roommate saya Febri. Samar-samar terdengar bunyi alarm kapal. Kapten akan menyalakan alarm jika terjadi dua hal, untuk tujuan board drill (latihan) dan ketika terjadi real emergency. Dengan mata setengah terbuka saya terpaksa bangun untuk melihat jam, waktu menunjukan pukul 02.15 pagi. Saya kira itu alarm untuk board drill tapi kenapa tumben diadakan pagi-pagi. Untuk mencari tahu, saya coba bangunkan Febri yang tidur di bawah tapi dia bergeming. Karena semakin penasaran saya buka pintu kamar sambil mengecek kondisi di luar, di sebelah kamar ada juga Joshua yang menengok keluar kamar. “Jo, kok jam segini ada board drill, knapa ya?” tanya saya. “Gak tau, udah balik tidur aja lagi besok harus kerja pagi-pagi” dia bilang.

Karena sangat mengantuk saya putuskan untuk tidur kembali, mungkin itu salah alarm. Belum sempat tertidur tiba-tiba ada orang yang menggedor pintu dengan keras sambil berteriak-teriak Fire!!! Fire!!! Fire!!! Saya pun langsung locat dari tempat tidur berusaha mengambil life jacket di atas lemari dan membangunkan roommate saya. Beberapa saat kemudian terdengar kapten menyampaikan pengumuman “Selamat pagi para tamu dan crew, saat ini kapal kita tengah mengalami kebakaran di deck 3 mooring deck, untuk membangunkan para tamu dan crew saya akan menyalakan alarm beberapa kali, para crew saya perintahkan untuk keluar dari cabin dan stand by di emergency station masing-masing” Alarm pun menyala berkali-kali. Waktu itu yang saya ingat cuma mengambil dompet dan bergegas keluar cabin. Mesin kapal mengeluarkan bunyi sedikit bising itu pertanda kapal tengah berhenti atau memutar di tengah laut, berarti memang benar terjadi sesuatu.

Anak laundry tergabung dalam blanket team member dan memiliki emergency station di laundry utama. Kami telah melakukan latihan setiap minggu jadi saya merasa sedikit tenang karena telah tahu apa yang harus dilakukan. Ketika terjadi real emergency kita harus mengikuti setiap instruksi kapten yang disampaikan kepada semua officer bawahannya. Meskipun begitu ada teman kami yang agak ketakutan karena baru dua minggu join di kapal, kami berusaha menenangkannya. Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi, bagaimana kondisi api dsb karena kami berkumpul di tween deck, deck paling bawah. Kami hanya bisa berkumpul disana sambil mendengarkan setiap pengumuman dari kapten. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan semuanya selamat dan diberi kemudahan memadamkan api. Beberapa saat kemudian terdengar pengumuman dari kapten “Selamat pagi para tamu dan crew kami telah berusaha dengan maksimal dan mengeluarkan kekuatan penuh untuk memadamkan api, kami juga mendapat bantuan dari sebuah kapal pesiar yang kebetulan lewat, mudah-mudahan api bisa segera padam” Di dalam lubuk hati yang paling dalam sebenarnya saya merasa sangat takut, ini adalah kali pertama saya mengalami bencana di kapal, yang namanya kapal kebakaran di tengah laut apapun bisa terjadi.

Suasana di Main Laundry

Hampir setiap jam kapten mengumumkan perkembangan yang terjadi, dia selalu bilang bahwa api sudah hampir padam. Belakangan saya tahu dari cerita para crew yang ikut memadamkan api bahwa sebenarnya api semakin meledak-ledak, tapi oleh kapten dibilang akan segera padam untuk menenangkan para tamu. Beberapa teman ada yang rebahan di lantai dan di meja, tetapi saya tetap terjaga. Sampai jam 7 pagi api belum juga padam, baru pada jam 9.30 pagi kapten mengumumkan bahwa api telah berhasil dipadamkan dengan sempurna. Berarti dibutuhkan total 7 jam untuk memadamkan api. Ketika kami akan sarapan sebagian crew mess juga terbakar. Info yang kami dapat dari teman-teman yang lain tidak ada korban jiwa baik tamu dan crew dari kebakaran itu, penyebabnya belum diketahui.

Kebakaran menyisakan kehancuran luar biasa di bagian belakang kapal, mulai dari deck 3 sampai deck 6 terkena kobaran api. Jika kebakaran meluas sampai kapten memutuskan untuk abandon ship (meninggalkan kapal) kemungkinan tidak semua crew mendapatkan jatah life raft karena puluhan life raft terbakar dan meleleh, jadi sangat beruntung api berhasil dipadamkan. Kebakaran tidak meluas juga karena semua pintu di kapal adalah fire door atau pintu tahan api. Kesaktian fire door ini terbukti ketika ruang galley yang di dalamnya terdapat berbagai minyak dan gas tertutup, api tidak bisa masuk sama sekali. Di satu sisi fire door hitam legam, tapi di sisi lainnya tidak tergores sama sekali.

Setelah berkordinasi dengan kantor pusat, Kapten mengambil keputusan untuk memulangkan semua tamu ke rumahnya masing-masing dengan ditanggung biaya penginapan, tiket dan total refund biaya booking. Kapal berlabuh di Nassau Bahamas dengan bantuan didorong oleh tug boat karena tali-tali kapal sebagian juga terbakar. Setelah semua tamu berhasil dipulangkan, kapten memutuskan kapal akan dry dock (diperbaiki) di Grand Bahamas Ship Yard di Nassau. Sampai di sana berbagai macam petugas datang untuk memeriksa, mulai dari polisi, FBI, CIA dan Coast Guard. Untuk merayakan keberhasilan memadamkan api serta semua tamu dan crew selamat, Safety Officer mengadakan all crew party, nahh udah kebakaran masih party pula heheh inilah hebatnya crew kapal. Disebelah kapal ada kapal pesiar lain yang tengah diperbaiki, para crew disana pada bengong melihat kami party.

All crew party, disebelahnya kapal Carnival

Setelah party usai besoknya semua fokus ke perbaikan kapal. Para kontraktor dari berbagai penjuru dunia pun berdatangan untuk memperbaiki kapal. Tempat makan dipindahkan ke Windjammer di lantai 11. Anak laundry tidak bekerja full dan sebagian crew ditugaskan menjadi Firewatch yaitu orang yang awasin kontraktor yang ngelas. Kalau kapal diperbaiki seperti ini banyak hal yang tidak menyenangkan terjadi, mulai pipa bocor, toilet tidak bisa flush, kepanasan karena ac dimatikan, tidak ada air. Saking panasnya kadang malam hari saya tidur di pool. Perbaikan dilakukan dengan sangat professional oleh ahlinya, bagian belakangnya dipotong dan ditempatkan bagian baru. Perbaikan berlangsung selama satu setengah bulan atau 45 hari.

Grandeour of the Seas tengah berada di dalam ship yard (dry dock)

Semua crew sebenarnya punya banyak waktu luang karena tidak ada tamu, tapi tidak ada tempat menarik yang bisa dikunjungi di sana. Tempat belanja hanya ada di Port Lucaya yang berjarak cukup jauh dari yard. Pihak kapal menyediakan shuttle gratis bagi crew yang ingin ke sana. Sepanjang perjalanan saya tidak menemukan orang lalu Lalang di jalan, atau orang di perumahan, seperti kota hantu. Satu setengah bulan disana membuat kami sangat jenuh dan level homesick sangat tinggi. Untuk menghilangkan jenuh kadang kami ramai-ramai ke gym supaya fikiran lebih waras dan otot lebih gede. Untuk gaji anak laundry tetap mendapatkan gaji penuh, tapi crew yang bekerja menggunakn tipping system, karena tidak ada tamu belum jelas mereka bakal dapat gaji atau tidak.

Piagam penghargaan yang diberikan kepada semua crew oleh Kapten Espen Been

Hari yang ditunggu pun tiba. Kapal telah selesai diperbaiki sehingga bisa kembali melayani para tamu cruising. Pelayaran pertama adalah kembali ke home port di Baltimore Maryland. Semenjak kejadian itu para crew seluruh fleet tidak diperbolehkan lagi untuk merokok di dalam kamar atau koridor.