Royal Naval Dockyard Bermuda : Pertemuan Dengan Boby dan Paula

By

Ini adalah cruise dengan port tunggal, Bermuda saja, tidak ada port yang lain. Satu cruise memakan waktu 5 hari. Dari Bayonne NJ kapal akan berlayar 2 hari di laut dan di hari ketiga akan sampai di Bermuda. Perjalanan di laut akan penuh dengan goncangan hebat, karena arus laut sangat kuat dan angin bertiup sangat kencang. Bagi yang gampang seasick rute ini bisa jadi neraka. Pernah suatu ketika saya masuk malam, gelombang menghantam cukup kencang dan tiba-tiba kapal jadi sangat miring. Troli, meja dan kursi tiba-tiba bergerak liar ke arah kemiringan kapal. Kami yang masuk malam sangat panik, menghentikan pekerjaan dan berpegangan di tiang besi. Sampai akhirnya para officer di bridge berhasil mengembalikan posisi kapal dan kapten membuat announcement untuk menenangkan crew dan tamu. Setelah beberapa kali ke sini kami menjadi terbiasa.

Port tempat berlabuh kapal saya (Explorer of The Seas) namanya King’s Wharf, terkenal juga dengan nama Royal Naval Dockyard. Disini terdapat beberapa tempat yang bisa dikunjungi, ada musium, pantai dengan air sangat jernih, craft market, tempat membuat kerajinan gelas, golf course, tempat dugem dll. Biasanya saya dan teman-teman main bola di lapangan sebelah musium. Bermuda memiliki mata uang tersendiri berupa Bermuda Dollar. Saya sempat membawa selembar Bermuda Dollar dengan nominal 2$.

Sayangnya barang-barang dan makanan disini harganya sangat mahal, saya tidak pernah beli makanan di sini. Berdasarkan keterangan penduduk lokal, harga tanah dan property disini sangat fantastis, bisa puluhan milyard. Meskipun begitu saya sempat membeli beberapa koleksi prangko di Bermuda.

Kita juga bisa menyeberang ke downtown di pulau sebelah dengan menggunakan ferry. Karena penasaran saya pernah sekali menyeberang ke downton bermuda, tidak terlalu banyak penduduk disana dan harga barang-barang disana super mahal. Satu hal yang menarik perhatian, di tempat-tempat umum dipasangi kamera dan membuang sampah sembarangan adalah suatu pelanggaran disana, bisa dikenakan denda, jadi saya harus berhati-hati. Bermuda termasuk tempat yang beriklim tropis sehingga bisa kita temukan beberapa spesies tumbuhan dan hewan seperti di Indonesia.

Bertemu Boby dan Paula

Tidak banyak yang bisa saya lakukan di Bermuda selain jalan-jalan di sekitar dock yard dan ke pantai, tetapi saya memiliki cerita yang sedikit unik. Cerita ini sebenarnya terjadi saat saya berada di kapal ke dua Grandeur of The Seas yang memiliki cruise ke Bermuda juga. Karena kapal menginap selama dua malam, biasanya saya pergi dengan teman-teman, tapi pada suatu malam sehabis kerja saya putuskan keluar sendiri. Di dekat dock yard ada sebuah bar, Bone Fish Grill & Bar namanya. Ini adalah tipikal western bar yang sering nongol di film-film. Saya sangat ingin membeli sebotol bear untuk menghilangkan dahaga. Karena tujuannya hanya ingin beli sebotol bear saya cuma bawa duit 20 USD, sebotol bear harganya 7 USD waktu itu. Di dalam bar ada beberapa kursi yang berjejer menghadap meja tempat memesan minuman. Di salah satu kursi, tengah duduk seorang pria paruh baya dengan baju tropical dan celana pendek berwarna kecoklatan sedang meneguk segelas bear. Saya pikir dia adalah salah satu tamu dari kapal saya. Dengan sedikit canggung saya duduk di salah satu kursi agak jauh dari pria paruh baya itu. Beberapa saat kemudian bartender datang menghampiri untuk menanyakan minuman apa yang mau dipesan. Sebotol local bear menjadi pilihan, saya lupa apa merknya.

Belum habis setengah botol, bapak paruh baya itu memulai perbincangan dengan mengajak tos, sembari menanyakan kabar dan nama saya. Dia bilang namanya Boby dari Canada, bekerja sebagai tukang instalasi listrik. Dia tengah liburan bersama istrinya dengan naik kapal Norwegian yang parkir di depan kapal saya. Boby telah beberapa kali ke Bermuda karena sangat menyukai tempat tropis (pada saat itu dinegaranya tengah musim salju). Mencoba akrab, saya pun menjelaskan bahwa saya adalah seorang crew di Explorer of The Seas dan sedikit riwayat kehidupan saya sebagai seorang guru. Boby sedikit terkejut, tetapi dia menanggapi dengan ramah, dia benar-benar suka berbincang (mungkin juga karena sedikit mabuk). Ketika bir saya telah habis dia menawari sebotol bir baru, tapi saya menolak karena merasa tidak enak, dia tetap memaksa dan akhirnya saya terima juga. Selama ngobrol kesana-kemari dia telah menghabiskan banyak bear, saya baru habis beberapa botol saja. Dia suruh tambah tapi saya tidak enak, akhirnya Boby tidak mau memaksa lagi, dia pun juga berhenti minum. Dia bilang ingin memperkenalkan saya dengan istrinya. Sebelum angkat kaki dari bar, saya menyodorkan beberapa lembar dollar kepada bartender untuk membayar beberapa botol bear yang saya minum tetapi Boby bilang tidak usah bayar, dia yang bayar. Saya merasa tidak enak kalau menolak (orang duit saya tidak cukup hehehe)

Diluar bar telah ramai dengan suara musik dan orang menari, di dekat bar ada semacam panggung kecil, beberapa orang terlihat menari dan memainkan alat musik. Boby menuju ke seorang perempuan paruh baya berkaca mata dengan rambut merah. Perempuan itu adalah istrinya, namanya Paula. Dia terlihat muda dengan baju bunga-bunga berwarna ungu dan rok selutut berwarna hitam. Mereka mengajak saya ke salah satu tempat makan di dekat panggung untuk minum bir kembali tetapi saya menolak, saya bilang Boby sudah banyak membelikan saya minum, tapi Paula bilang ingin minum dan ngobrol bersama saya. Karena mereka sangat baik dan ramah (kerjaan besoknya juga tidak terlalu banyak) saya pun menunda kepulangan saya balik ke kapal.

Paula dan Boby bilang sangat menyukai orang Indonesia (terutama saya hehehe) karena sikapnya sangat ramah dan baik hati. Di kapal mereka menginap, Paula dan Boby juga kenal dan akrab dengan beberapa crew dari Indonesia. Kami minum bir sambil terkesima melihat seorang bapak bersama anak perempuannya yang tinggi semampai menari salsa dengan gerakan begitu indah. Selesai mereka menari ada sesi menari bebas, orang-orang naik ke panggung untuk menari. Boby dan Paula mengajak saya menari, tetapi saya paling tidak bisa menari. Saya menolak dan memilih duduk, tetapi mereka tetap memaksa, mereka bilang juga tidak bisa, hanya menari seadanya untuk having fun. Dengan rasa canggung, saya pelan-pelan melangah ke panggung, tidak tau harus mengeluarkan gerakan apa. Saya lihat, meskipun Boby dan Paula bilang tidak bisa dance tapi gerakan mereka berkata lain. Apalagi bule-bule lainnya disana, mereka seperti telah terbiasa bergerak seirama dengan musik. Sepertinya latihan dance harus dimasukan ke dalam bucket list saya untuk situasi tak terduga. Saya pun gerak-gerak seadanya tidak karuan, tidak terbiasa juga dengan situasi seperti itu.

Waktu pun berlalu begitu cepan hingga jam satu malam tiba. Mereka bertanya apakah masih ingin di sana atau pulang, mereka ingin menemani saya. Karena besoknya harus kembali bekerja, saya putuska untuk balik ke kapal. Selama perjalanan pulang, Boby dan Paula bilang sangat menikmati waktu bersama saya. Mereka memberikan kartu nama lengkap dengan alamat email. Mereka berpesan agar suatu hari nanti menghubungi mereka, boleh lewat email. Sebelum pergi ke kapal masing-masing, Boby dan Paula memeluk saya dengan hangat sembari mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Saya merasa sangat terharu dengan kebaikan mereka, meskipun baru bertemu, Boby dan Paula sangat baik kepada saya.

Beberapa hari kemudian saya mencoba mengirimkan email, tapi sampai sekarang saya tidak pernah menerima balasannya, entah karena tidak sampai atau alasan lain saya kurang tau. Jika bertemu dengan Boby dan Paula kembali saya ingin mentraktir mereka juga. Salam untuk Boby dan Paula.